Senin, 30 Januari 2012

Menagih Janji Kaum Syiah


Menagih Janji Kaum Syiah

Pada hari Kamis, 19 Januari 2012, Jurnal Islamia-Republika, (hal. 23-26) – Jurnal Pemikiran Islam bulanan hasil kerjasama antara INSISTS dan Harian Republika -- menurunkan kajian utama tentang Syiah di Indonesia. Artikel saya yang dimuat di Jurnal tersebut berjudul “Solusi Damai Muslim Sunni-Syiah”.
Esoknya, Jumat, 20 Januari 2012, Kajian Islamia-Republika itu mendapatkan tanggapan dari Haidar Bagir, Dirut Penerbit Mizan – yang dikenal sebagai salah satu penerbit buku Syiah di Indonesia. Artikel Haidar di Harian Republika itu diberi judul “Syiah dan Kerukunan Umat.” Dalam artikelnya, Haidar Bagir menulis, bahwa dia setuju dengan solusi damai yang saya tawarkan:  “Jika kaum Syiah mengakui Sunni sebagai mazhab dalam Islam, seyogyanya mereka menghormati Indonesia sebagai negeri Muslim Sunni. Biarlah Indonesia menjadi Sunni. Hasrat untuk men-Syiahkan Indonesia bisa berdampak buruk bagi masa depan negeri Muslim ini…. Itulah jalan damai untuk  Muslim Sunni dan kelompok Syiah.

Menurut Haidar Bagir, dia pernah bertemu secara pribadi dengan Syaikh Ali Taskhiri, seorang ulama terkemuka di Iran, salah satu pembantu terdekat Wali Faqih Ayatullah Ali Khamenei, serta wakil Dar al-Taqrib bayn al-Madzahib(Perkumpulan Pendekatan antar-Mazhab), yang dengan tegas menyatakan: “hendaknya kaum Syiah di Indonesia meninggalkan sama sekali pikiran untuk mensyiahkan kaum muslim di Indonesia.”

Haidar Bagir juga menyampaikan imbauan di ujung artikelnya: “Khusus untuk orang-orang yang pandangannya didengar oleh para pengikut Syiah di negeri ini, hendaknya mereka meyakinkan para pengikutnya untuk dapat membawa diri dengan sebaik-baiknya serta mengutamakan persaudaraan dan toleransi terhadap saudara-saudaranya yang merupakan mayoritas di negeri ini.”
Dalam soal sikap terhadap para sahabat Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) -- yang menjadi langganan caci-maki kaum Syiah, Hadiar Bagir juga menulis:
“Sementara itu, banyak ulama Syiah Imamiyah atau Itsna ’Asyariyah yang telah merevisi pandangannya tentang ini. Hasil konferensi Majma’ Ahl al-Bayt di London pada 1995, mi sal nya, dengan tegas menyatakan menerima keabsahan kekhalifah an tiga khalifah terdahulu sebelum Khalifah Ali. 
Bahkan, terkait dengan skandal pengutukan sahabat besar dan sebagian istri Nabi yang dilakukan oleh oknum Syiah yang tinggal di Inggris, bernama Yasir al-Habib, Ayatullah Sayid Ali Khamenei sendiri mengeluarkan fatwa yang dengan tegas melarang penghinaan terhadap orang-orang yang dihormati oleh para pemeluk Ahlus Sunnah (fatwa ini tersebar dan dapat dengan mudah diakses dari berbagai sumber). Di antara isinya adalah,
“Diharamkan menghina figur-figur/tokoh-tokoh (yang diagungkan) saudara-saudara seagama kita, Ahlus-Sunnah, termasuk tuduhan terhadap istri Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)dengan hal-hal yang mencederai kehormatan mereka ...”
   
Benarkah?

Jadi, sesuai artikel Haidar Bagir di Republika tersebut,  ada dua hal pokok yang harus dilakukan oleh kaum Syiah untuk solusi damai bagi Ahlu Sunnah dan Syiah di Indonesia, yaitu (1) menghentikan caci maki terhadap sahabat-sahabat dan istri-istri  Nabi saw dan (2) menghentikan ambisi untuk meng-Syiahkan Indonesia, seperti ditegaskan oleh seorang ulama Syiah yang dijumpai Haidar Bagir: “hendaknya kaum Syiah di Indonesia meninggalkan sama sekali pikiran untuk mensyiahkan kaum muslim di Indonesia.”
Apakah janji yang disampaikan Haidar Bagir tersebut bisa dipenuhi kaum Syiah? Tampaknya, itu tidaklah mudah. Seperti disebutkan dalam CAP-323 lalu, sejumlah fakta di lapangan menunjukkan banyaknya penerbitan Syiah di Indonesia yang masih mengumbar caci-maki dan fitnah terhadap para sahabat dan istri-istri Nabi Muhammad saw. Bahkan, salah satu buku terkenal yang mencaci-maki dan menfitnah sahabat dan istri Nabi Muhammad saw adalah buku terbitan Mizan, pimpinan Haidar Bagir sendiri, yang berjudul  “Dialog Sunnah – Syiah”  karya  Syarafuddin al Musawi, (Bandung: Mizan (cetakan pertama, 1983).
Buku ini diklaim penulisnya sebagai kumpulan surat menyurat antara penulis dengan Syaikh Salim al-Bisyri al-Maliki, yang saat itu menjabat Rektor al Azhar, Mesir. Di dalamnya banyak berisi dialog yang menjelaskan antara lain: Kewajiban berpegang pada madzhab Ahlul Bait, adanya wasiat Nabi saw untuk Ali bin Abi Thalib r.a. sebagai penggantinya, para sahabat tidak ma’shum (infallible) dari dosa dan kesalahan yang berimplikasi ketidakpercayaan periwayatan dari mereka, dan bahasan lain yang mendukung pemahaman Syiah.
Di buku ini, juga ditulis berbagai tuduhan bahwa Aisyah r.a. telah berbohong karena menceritakan Nabi Muhammad saw meninggal di pangkuannya, sehingga didoakan oleh penulisnya,  mudah-mudahan Allah memberikan ampunan untuk Aisyah r.a.
“Oh…., semoga Allah mengaruniakan ampunan-Nya bagi Ummul Mu’minin! Mengapa ia, ketika menggeser keutamaan ini dari Ali, tidak mengalihkannya kepada pribadi ayahnya saja! Bukankah yang demikian itu lebih utama dan lebih layak bagi kedudukan Nabi saw daripada apa yang didakwahkannya? Namun sayang ….., ayahnya – waktu itu – bertugas sebagai anggota pasukan di bawah pimpinan Usamah bin Zaid, yang persiapannya telah diatur dan ditetapkan sendiri oleh Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) ; dan pada saat itu sedang berhenti dan berkumpul di sebuah desa bernama Juruf!” (hal. 353).
Di buku ini juga dimuat cerita tentang provokasi Aisyah terhadap khalayak dengan  memerintahkan mereka agar membunuh Utsman bin Affan: “Bunuhlah Na’tsal, karena ia sudah menjadi kafir!” (Catatan: Na’tsal adalah orang tua yang pandir dan bodoh). (hal. 357). Di halaman yang sama, dimuat satu syair yang mengecam Aisyah r.a.:
“Engkau yang memulai, engkau yang merusak
Angin dan hujan (kekacauan)
Semuanya berasal darimu
    Engkau yang memerintahkan
    Pembunuhan atas diri sang Imam
    Engkau yang mengatakan
    Kini dia sudah kafir.”
   
(NB. Berbagai cercaan terhadap Aisyah r.a. tersebut saya kutip dari buku  Dialog Sunnah-Syiah, edisi Oktober 2008. Jadi, sejak 1983 buku ini terus dicetak oleh Penerbit Mizan – yang Dirutnya adalah Haidar Bagir – sampai tahun 2008. Saya tidak tahu, apakah masih ada edisi buku tersebut setelah 2008).
Itulah sebagian isi buku “Dialog Sunnah-Syiah” terbitan Mizan. Pokok-pokok bahasan di dalam buku “Dialog Sunnah-Syiah”  tersebut telah dijelaskan kekeliruannya oleh Prof. Dr. Ali Ahmad as-Salus dalam karyanya Ensiklopedi Sunnah Syiah, Studi Perbandingan Aqidah dan Tafsir, yang diterbitkan Pustaka Al Kautsar (Jakarta, 1997). Buku ini diberi kata pengantar oleh Dr. Hidayat Nurwahid, yang juga dikenal sebagai pakar tentang Syiah lulusan  Universitas Islam Madinah. Dalam pengantarnya, Hidayat Nurwahid memuji keseriusan Prof. as-Salus yang berhasil menunjukkan, bahwa buku karya al-Musawi, yang aslinya berjudul al-Muraja’at,  hanyalah karangan al-Musawi belaka. Alias, dialognya adalah fiktif belaka.
Bahkan, Prof. as-Salus menulis: “Tetapi al-Musawi, seorang Syiah Rafidhah yang terkutuk ini, tanpa rasa sungkan dan malu ingin menjadikan seorang Syaikh al-Azhar yang kapabel dan kredibel sebagai murid kecil dan bodoh yang menerima ilmu pertama kali dari dia.” (hal. 249).
Kaum Muslim yang mencintai Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), para sahabat beliau yang mulia, dan juga istri-istri beliau yang herhormat, pasti tidak ridho jika orang-orang yang mulia tersebut dihina, difitnah dan dilecehkan. Kita pun tidak rela jika orang yang kita hormati dan sayangi diperhinakan. Bagaimana jika yang dihina dan difitnah adalah para sahabat dan istri Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)? Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) bersabda: “Tidak beriman salah seorang  diantara kalian, hingga diriku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR Bukhari dan Muslim).
Cerita bahwa Aisyah r.a. memerintahkan pembunuhan terhadap Utsman bin Affan adalah tuduhan keji dan dusta. Aisyah sendiri pernah dikonfirmasi tentang adanya surat atas nama Aisyah di Medir yang memerintahkan pembunuhan terhadap Utsman bin Affan r.a.  Beliau bersumpah, bahwa beliau tidak pernah menulis surat seperti itu. Banyak riwayat dari Aisyah r.a. yang sudah mengklarifikasi masalah ini. Anehnya, orang-orang Syiah tidak mau tahu, dan selalu mengutip cerita-cerita bohong tersebut. (Lihat, Tarikh Khalifah bin Khayyath, hal. 176 & Tarikh al-Madinah, Ibn Syabbah 4:1224. Semuanya ada dalam Tahqiq Mawaqif al-Shahabah fil-Fitnah, karya Dr. Mahmud Umahzun, Dar Thayba, Riyadh, cet. I,  1994, vol.2/29-30. Data: Buku Fitnah Maqtal Utsman, karya Dr. Mhmmad al-Ghabban, Maktabah Obeikan, Riyadh, cet. I, 1999).
Jika Aisyah dinistakan dan difitnah, kaum Muslim tentu sangat tidak ridha. Ummul mukminin, Aisyah r.a. sangat dicintai kaum Muslimin. Beliau adalah istri Nabi yang mulia. Nabi Muhammad saw wafat di pangkuan Aisyah dan dikuburkan di rumah Aisyah pula. Aisyah r.a. adalah ulama wanita yang meriwayatkan 2210 hadits. Dari jumlah itu, 286 hadits tercantum dalam shahih Bukhari dan Muslim. Ada sekitar 150 ulama Tabi’in yang menimba ilmu dari Aisyah. (Lihat, K.H. Ubaidillah Saiful Akhyar Lc, Aisyah, The Inspiring Woman, (Yogyakarta: Madania, 2010).
Kasus buku Dialog Sunnah-Syiah terbitan Mizan ini menjadi bukti nyata, bahwa ajakan Haidar Bagir untuk kerukunan Sunnah-Syiah masih perlu dipertanyakan. Bukankah buku yang mencaci maki sahabat-sahabat dan istri Nabi tersebut sudah diterbitkan oleh Penerbit Mizan selama hampir 30 tahun?

Jalan Damai: Mungkinkah?

Menyimak berbagai penerbitan kaum Syiah – termasuk terbitan Mizan – patut dipertanyakan, mungkinkah jalan damai Sunnah-Syiah itu bisa diwujudkan? Mungkinkah kaum Syiah memenuhi imbauan dari sebagian tokoh mereka: agar tidak berambisi men-Syiahkan Indonesia dan menghentikan caci maki terhadap sahabat dan istri Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)?
Memang itu tidak mudah. Sebab, tampak dalam berbagai penerbitan mereka, kebencian terhadap Abu Bakar, Umar, dan Utsman, radhiyallaaahu ‘anhum, sudah begitu mendarah daging.  Sikap Syiah terhadap para sahabat Nabi itu sangat berbeda dengan sikap kaum Sunni yang menghormati semua sahabat, apalagi KhulafaaurRasyidin, termasuk Sayyidina Ali r.a.
Saya mendapat satu brosur doa berjudul “Ziarah Asyura”, terdiri atas enam halaman. Disamping berisi doa-doa untuk para Nabi Muhammad saw dan keluarganya,  doa ini diwarnai dengan kutukan dan laknat terhadap berbagai orang. Misalnya, di halaman 5, ditulis doa laknat: “Allahummal-‘an awwala dhaalimin dhalama haqqa Muhammadin wa-Aali Muhammadin…”. (Ya Allah, laknatlah orang-orang zalim yang awal-awal, yang menzalimi hak Nabi Muhammad dan keluarganya…”).
Doa ini diakhiri dengan kutipan perkataan Imam Muhammad Al-Baqir as., yang berkata kepada Alqamah: “Jika engkau mampu berziarah kepada beliau (Imam Husein as.) setiap hari dengan membaca doa ziarah ini (ziarah Asyura) di rumahmu, maka lakukanlah itu dan engkau akan mendapatkan semua pahala (berziarah).”
Itulah petikan doa “Ziarah Asyuro” yang diedarkan di Indonesia. Siapakah yang dimaksud dengan “orang-orang zalim”  yang disebutkan telah menzalimi hak Nabi dan keluarga Nabi?  Apakah mereka Abu Bakar, Umar bi Khathab, Utsman bin Affan, Aisyah r.a., dan sebagainya?  Prof. Dr. Ali Ahmad as-Salus, dalam buku yang disebutkan terdahulu, telah mengklarifikasi masalah ini, dengan menunjukkan adanya riwayat dari Imam Zaid bin Hasan bin Ali bin Husain Radhiyallaahu ‘anhum, bahwa dia membenarkan apa yang dilakukan Abu Bakar r.a. terhadap Fathimah dalam soal waris keluarga Nabi.  “Jika saya pada posisinya (Abu Bakar) niscaya saya akan menetapkan hukum seperti yang ditetapkannya,”  kata Imam Zaid. Diriwayatkan juga dari saudara Imam Zaid, yaitu al-Baqir, bahwa dia pernah ditanya, “Apakah Abu Bakar dan Umar menzalimi sesuatu dari hak kalian?” Ia menjawab, “Tidak, demi Dzat yang menurunkan al-Quran kepada hamba-Nya agar menjadi peringatan bagi alam semesta, sungguh kami tidak dizalimi dari hak kami meskipun seberat biji sawi.” (as-Salus, hal. 297).
Jika dicermati, polemik Ahlu Sunnah dan Syiah itu sudah berlangsung lebih dari 1.000 tahun. Apakah hal seperti ini yang diinginkan oleh kaum Syiah di Indonesia, dengan terus-menerus menebarkan kebencian kepada Abu Bakar, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, Aisyah r.a.? Sampai kapan caci-maki semacam ini akan diakhiri? Karena itu, saya ingin mengakhiri CAP ini dengan ungkapan sama seperti dalam artikel di Jurnal Islamia-Republika (19/1/2012):“Jika kaum Syiah mengakui Sunni sebagai mazhab dalam Islam, seyogyanya mereka menghormati Indonesia sebagai negeri Muslim Sunni. Biarlah Indonesia menjadi Sunni. Hasrat untuk men-Syiahkan Indonesia bisa berdampak buruk bagi masa depan negeri Muslim ini. Masih banyak lahan dakwah di muka bumi ini – jika hendak di-Syiahkan.  Itulah jalan damai untuk  Muslim Sunni dan kelompok Syiah. Kecuali, jika kaum Syiah melihat Muslim Sunni adalah aliran sesat yang wajib di-Syiahkan! 
Kita tunggu realisasi janji kaum Syiah untuk tidak men-Syiahkan Indonesia dan menghentikan caci-maki kepada para sahabat dan istri-istri Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)! (Walahu a’lam bil-shawab).*

Jumat, 27 Januari 2012

Daftar kata serapan dari bahasa Arab dalam bahasa Indonesia

Daftar kata serapan dari bahasa Arab dalam bahasa Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Di bawah ini disajikan daftar kata-kata Arab dalam bahasa Indonesia berikut dengan bentuk dan ejaan aslinya.
Kosakata bahasa Indonesia dan bahasa Melayu yang berasal dari bahasa Arab cukup banyak, diperkirakan sekitar 2.000 - 3.000. Namun frekuensinya tidak terlalu besar. Secara relatif diperkirakan jumlah ini antara 10 % - 15 %. Sebagian kata-kata Arab ini masih utuh dalam arti yang sesuai antara lafal dan maknanya, dan ada sebagian lagi berubah. Untuk jelasnya kita ikuti saja contoh-contoh berikut ini:

[sunting]Lafal dan arti masih sesuai dengan aslinya

  • abad, abadi, abah, abdi, adat, adil, amal, aljabar, almanak, awal, akhir,
  • bakhil, baligh, batil, barakah,
  • daftar, hikayat, ilmu, insan, hikmah, halal, haram, hakim,
  • khas, khianat, khidmat, khitan, kiamat
  • musyawarah, markas, mistar, mahkamah, musibah, mungkar, maut,
  • kitab, kuliah, kursi, kertas, nisbah, napas,
  • syariat, ulama, wajib, ziarah.

[sunting]Lafalnya berubah, artinya tetap

  • berkah, barakat, atau berkat dari kata barakah
  • buya dari kata abuya
  • derajat dari kata darajah
  • kabar dari kata kahabar
  • lafal dari kata lafazh
  • lalim dari kata zhalim
  • makalah dari kata maqalatun
  • masalah dari kata mas-alatuna
  • mungkin dari kata mumkinun
  • resmi dari kata rasmiyyun
  • soal dari kata suaalun
  • rezeki dari kata rizq
  • Sekarat dari kata Zakarotil
  • Nama-nama hari dalam sepekan : Ahad (belakangan jadi Minggu artinya=1), Senin (Isnaini=2), Selasa (Salasa), Rabu (Arba'a), Kamis (Khomsa), Jumat (Jumu'ah) dan Sabtu (sab`atun)

[sunting]Lafal dan arti berubah dari lafal dan arti semula

  • keparat dalam bahasa Indonesia merupakan kata makian yang kira-kira bersepadan dengan kata sialan, berasal dari kata kafarat yang dalam bahasa Arab berarti tebusan.
  • logat dalam bahasa Indonesia bermakna dialek atau aksen, berasal dari kata lughah yang bermakna bahasa atau aksen.
  • naskah dari kata nuskhatun yang bermakna secarik kertas.
  • perlu, berasal dari kata fardhu yang bermakna harus.
  • petuah dalam bahasa Indonesia bermakna nasihat, berasal dari kata fatwa yang bermakna pendapat hukum.
  • laskar dalam bahasa indonesia bermakna prajurit atau serdadu, berasal dari kata 'askar yang berarti sama

[sunting]Lafalnya benar, artinya berubah

  • ahli
  • "kalimat" dalam bahasa Indonesia bermakna rangkaian kata-kata, berasal dari bahasa Arab yang bermakna kata.
  • siasat
Daftar isi:Atas -
0–9 A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z - Pranala luar

[sunting]A

  • abad (ابد abad) – 100 tahun
    • abadi (ابدي abadī) – kekal
  • ab'ad (ابعاض ab`āḍ)
  • abawi (ابوي abawī)
  • abdi (عبد `abd)
  • abdul (عبدل `abdu'l)
  • abid (عاد `ābid)
    • abidin (عابدين `ābidīn)
  • abjad (ابجد abjad) – aksara
  • abnus (ابنوس abnūs)
  • abras (ابرص abraṣ)
  • absah (افصح afṣaḥ) – sesuatu yang berlaku
  • abtar (ابتر abtar)
  • abu (ابو abū) – bapak
  • abyad (ابيض abyaḍ)
  • adab (ادب adab) – budaya, kultur
  • adad (اعداد a`dād)
  • adal (عدل `adl)
  • adalat (عدال `adāla)
  • Adan (عدن `adn) – Taman Eden, Firdaus
  • adas (عدس `adas)
  • adat (عاد `āda) – kebiasaan, tradisi
  • adawat (عداو `adāwa)
  • adib (اديب adīb)
  • adil ( `ādil)
  • af'al ( af`āl)
  • afdal ( afḍal)
  • afiat ( `āfiya)
  • Aflatun (افلاظون Aflāṭūn) – bentuk Arab dari nama Plato, salah seorang filsuf Yunani Kuna yang terbesar
  • afrit ( `ifrīt)
  • afwah ( afwāh)
  • aghlaf ( aghlaf) – tidak disunat
  • Ahad (احد aḥad) – hari Minggu
  • ahad ( āḥād) – berhubungan dengan hadis
  • ahdiat ( aḥadīya)
  • ahkam ( aḥkām)
  • ahlan wasahlan ( ahlan wasahlan)
  • ahli ( ahl) – pakar
  • ahlu ( ahl) – anggota
    • ahlulbait ( ahlu'lbait) – rumah tangga Nabi Muhammad SAW
    • ahlulkitab (أهل الكتاب ahlu'lkitāb) – anggota agama yang juga diakui oleh al-Qur'an
    • ahlulkubur ( ahlu'lqubūr) – orang mati
    • ahlulnujum ( ahlu'lnujūm) – ahli nujum, kaum magis
    • ahlulsuluk ( ahlu'lsulūk)
    • ahlussunah waljamah ( ahlu'ssunna wa'l-jamā'a)
  • ahmak ( aḥmaq)
  • ahmar ( aḥmar)
  • aib ( `aib) – malu
  • aif ( `aif) – tak sempurna
  • ain (1) (ع `ain) – mata
  • ain (2) (ع `ain) – huruf dalam abjad Arab yang melambangkan fonem emfatis
  • Ainah ( A`inna)
  • ain albanat ( `ain al-banāt)
  • Aisyah ( `ā'isha)
  • ajab ( `ajab)
  • ajaib ( `ajā'ib)
  • ajal ( ajal)
  • ajalullah ( ajalu'illāh)
  • Ajam ( `ajam)
    • Ajami ( `ajamī)
  • ajir ( ajīr)
  • ajnabi ( ajnabī)
  • ajnas ( ajnās)
  • ajwaf ( ajwaf)
  • akad ( `aqd)
  • aka'id ( `aqā'id)
  • akal ( `aql)
  • akas ( `aks)
  • akbar ( akbar)
  • akekah ( `aqīqa)
  • akhbar ( akhbār) – berita, koran di Malaysia
  • akhbiat ( al-akhbiya)
  • akhdar ( akhḍar)
  • akhir ( ākhir) – penghujung
  • akhirat ( ākhira)
  • akhirulkalam ( ākhiru'lkalām)
  • akhlak ( akhlāq)
  • akibat ( `āqiba)
  • akidah ( `aqīda) – kepercayaan
  • akik ( `aqīq)
  • akil ( `āqil)
  • akilbalig ( `āqilbāligh) – sudah cukup umur
  • akmal ( akmal)
  • akrab ( aqrab)
  • Akrab ( `Aqrab) – rasi Skorpion
  • aksa (اقصا aqṣā) – jauh
  • akwal ( aqwāl)
  • al ( al-)
  • ala (1) (على `alā)
  • ala (2) ( a`lā)
  • alaihi (عليه `alaihi)
  • alaihi assalam (عليه السلام `alaihi as-salam)
  • alaihima (عليهما `alaihimā)
  • alaika (عليك `alaika)
  • alaikum (عليكم `alaikum)
  • ala kadarnya ( `alā qadr)
  • alam (1) (عالم `ālam) – dunia
    • alami (عالمي `ālamī)
    • alamiah ( `ālamī)
    • alamin (عالمين `ālamīn)
    • alam kabir ( `ālam kabīr)
    • alam malakut ( `ālam malakūt)
    • alam saghir ( `ālam ṣaghīr)
  • alam (2) ( a`lam) – tahu
  • alam (3) ( `alam) – bendera
  • alamar ( al-amr)
  • alamat ( `alāma) – adres
  • alamatulhayat ( `alāmatu'lḥayāh)
  • alaswad ( al-aswad)
  • alat ( āla) – piranti, jentera
  • albarni ( al-barnī) – gula-gula
  • Aldubul akbar ( al-dubbu'l akbar)
  • Aldubul asgar ( al-dubbu'l aṣghar)
  • alf ( alf) – ribu
  • alfiah ( alfīya)
  • Alhak ( Al-haqq) - Tuhan
  • alhamdulillah ( al-ḥamduli'llāh)
  • alhasil ( al-ḥāṣil)
  • ali ( `alīy)
  • aliat ( `alīya)
  • alif (1) ( alīf) – teman, mitra
  • alif (2) ( alif) – huruf pertama dalam abjad Arab
  • alif-ba-ta ( alif-bā'-tā' ) – abjad Arab
  • alim (1) ( `ālim)
  • alim (2) ( alīm)
  • alimiat ( `ālimīya)
  • aljabar ( al-jabr)
  • Aljazair ( Al-Jazā'ir) – negara di Afrika Utara juga dikenal sebagai Algeria
  • alkah ( `alaqa)
  • alkali ( al-qiliy) – sejenis senyawa kimia
  • alkamar ( al-qamar) – bulan, satelit bumi
  • Alkasyaf ( al-kashshāf)
  • Alkitab ( Al-kitāb) – kitab suci agama Kristen, juga dikenal sebagai Bibel
  • alkohol ( al-kuḥūl) – senyawa kimia
  • alkonya ( al-kunya) – nama marga, nama famili
  • Allah (الله Allāh) – Tuhan
  • Allahuma ( Allāhuma)
  • allamah ( `allāma)
  • almal'un ( al-mal`ūn)
  • almarhum ( al-marḥūm)
  • almas ( almās)
  • Almasih ( al-masīḥ) – Mesias, Yesus Kristus
  • almukhalis ( al-mukhalliṣ) – sang penyelamat
  • alwat ( alwa)
  • am ( `āmm) – umum
  • amal ( `amal)
  • Amalik ( `Amālīq) – nama seorang nabi
  • aman ( amān) - damai
  • amanat ( amāna)
  • amar ( amr)
  • amar ma'ruf naih mungkar ( al-amr bi'l ma`rūf wa'l-nahy'an il-munkar) – bersatulah dengan apa yang baik
  • ambal ( ḥanbal) – karpet
  • ambar ( `anbar)
  • amid ( `amīd)
  • amil ( `āmil)
  • amin (1) ( āmīn) – penutup doa
  • amin (2) ( amīn)
  • amir ( amīr)
  • amirulbahar ( amīru'l-baḥr)
  • amirulhaj ( amīru'l-ḥajj)
  • amirul-mu'minin ( amīru'l-mu'minīn)
  • amlas ( amlas)
  • ammaba'du ( ammā ba`du)
  • ammi ( ummī)
  • amri ( amr)
  • amris ( ?)
  • amsal ( amthāl) – perumpamaan
  • ana ( ana) – saya
  • anam ( anām)
  • anasir ( `anāṣir) – elemen
  • anbia ( anbiyā' ) – para nabi (bentuk jamak)
  • ane ( ana) – saya
  • anhu ( `anhu) – dari dia
  • ansar ( anṣār)
    • ansari ( anṣāri)
  • Antakiah ( Anṭākiya) – Antiokia
  • antelas ( aṭlas) – sejenis bahan
  • antum ( antum) – engkau
  • apiun (أفيون afyūn) – opium
  • Arab ( `Arab) – Arabbahasa Arab
    • Arabi ( `Arabī)
    • Arabiyah (عربية `Arabīya)
  • araf ( a`rāf)
  • Arafat ( `arafāt) – nama sebuah bukit
  • arak ( `araq)
  • aral ( `araḍ)
  • aras ( `arsh)
  • araz ( arz)
  • Arba'a ( al-arba`ā' ) – hari Rabu
  • arbab ( arbāb) - tuan
  • ardi ( arḍ) – bumi
  • arham ( arḥam)
  • arif ( `ārif) – bijaksana
    • arifin ( `ārifīn)
  • arik ( ariq)
  • aris ( arīs)
  • arka ( arakku)
  • arkan ( arkān)
  • arnab ( arnab) – kelinci
  • arud ( `arūḍ)
  • arus ( `arūs) – penganten lelaki
  • arwah ( arwāḥ) – roh
  • as ( ās)
  • asabah ( `aṣaba)
  • asabiah ( `aṣabīya)
  • asad ( asad) – singa
  • asah ( aṣaḥḥ)
  • asal (أصل و جمعه أصول aṣl)
  • asar ( `aṣr)
  • asas (أساس asās)
  • asbabunnuzul ( asbābu 'n-nuzūl)
  • asfal (اسفل asfal) - paling rendah, paling bawa
  • asfar ( aṣfar)
  • ashab ( aṣḥāb)
  • ashabussittah ( aṣḥābu'ssitta)
  • asi ( `āṣī)
  • askal ( athqāl)
  • askar ( `askar) – prajurit, serdadu
  • Askariah ( `askarīya)
  • asli ( aṣlī) – yang orisinal
  • asma ( asmā' ) – nama
  • asrafin ( asrāfīn)
  • asrar ( asrār)
  • assalam alaikum ( as-salām'alaikum)
  • astaga ( ?)
  • astagfirullah (استغفرالله astaghfiru'llāh) - semoga allah mengampuniku
  • aswad ( aswad)
  • asyhadu (أشهد ashhadu) – saya bersaksi, saya menyaksikan, saya melihat
  • asyik ( `āshiq) – sibuk dengan senang
    • asyikin ( `āshiqīn) – pencinta
  • Asymawil ( ishmawīl) – bentuk Arab dari nama Yahudi Samuel
  • Asyura ( `āshūrā' ) – hari raya pada tanggal 10 Muharram
  • atar ( `iṭr) – parfum, wewangian
  • atlas ( aṭlas) – peta bumi
  • audu billahi ( a`ūdhu billāh)
  • aulia (أوليا awliyā' ) - wali, penolong
  • aur ( a`war)
  • aurat ( `aura)
  • ausat ( ausaṭ)
  • auzan fiil ( auzān f'il)
  • awab ( awwāb)
  • awal ( awwal) – mula
  • awam ( `awāmm) – orang umum
  • awan ( a`wān) – penolong
  • ayam ( ayyām) – hari
  • a'yan thabitah ( a`yān thābita)
  • ayar ( `ayyār)
  • ayat ( āya)
  • azab ( `adhāb)
  • azal ( azal) – masa lampau
  • azali ( azalī)
  • azam (1) ( a`ẓam)
  • azam (2) ( `azm)
  • azan ( adhān) – panggilan untuk bersholat
  • azhar ( azhar)
  • azim ( `aẓīm)
  • azimat ( `azīma) – jimat, barang keramat, suci
  • aziz ( `azīz) – tersayang
  • azmat ( `aẓama)
  • Azmu ( faras al-a`ẓam) – Pegasus
  • Azrakiah ( azraqīya) – nama sebuah aliran
  • azul ( azal)
  • azza wa jalla ( `azza wa-jalla)

[sunting]B

  • ba (با bā' ) – huruf kedua dalam abjad Arab
  • baad ( ba`ḍ) – seseorang tertentu
  • bab (باب bāb) – pasal, sargah
  • Babil ( Bābil) – Babel
  • Babussalam ( Bābu'ssalām) – gapura di Makkah
  • bada ( ba`da) – setelah
    • badahu ( ba`dahu) – setelah itu
  • badal ( badal) – pengganti
  • badan ( badan) – tubuh
    • badani ( badanī) – fisikal
  • badar ( badr) – bulan purnama
  • badi' ( badī`) – gaya sastra
  • Badui ( badawī) – suku di Banten, bagian barat pulau Jawa
    • Badawi, Bedawi – suku nomad di Timur Tengah
  • bagal ( baghl) – hewan pengangkat, separuh kuda, separuh keledai
  • bahak ( bahaq) –
  • bahar ( baḥr) – laut
    • bahari ( baḥarī) – maritim
    • bahri ( baḥarī) – maritim
  • bahas ( baḥth) – diskusi
  • bahlul ( buhlūl) –
  • bahrulhayat ( baḥru'lḥayāh) – laut kehidupan
  • baid ( ba`īd) – jauh
  • bainah ( bayyina') – bukti
  • bait (1) ( bait) – rumah
  • bait (2) ( bait) – larik puisi atau lagu
  • Baitullah ( baitu'llāh) – Rumah Allah
  • Baitul Makmur ( Baitu'lma`mūr) – rumah di sorga ketujuh
  • baitulmal ( baitu'lmāl) – tempat penyimpanan harta
  • Baitulmukadas ( Baitu'lmuqaddas) – Yerusalem
  • baka ( baqā' ) – kekal
  • bakarah ( baqara) – sapi, lembu
  • bakhil ( bakhīl) – sengsara
  • baki ( bāqī) –
    • bakiah ( baqīya) –
  • bala ( balā' ) – bencana
  • balad ( balad) – negara
  • balaghah ( balāgha) – keindahan berbahasa
  • balasan ( balsam) – balsem
  • balgam ( balgham)
  • balig ( bāligh) – berumur
  • baligat ( bāligha) – berumur (bentuk feminin)
  • bani ( banī) – anak
  • barakat ( baraka) – pangestu
    • barakatuh ( barakātuhu) –
    • berkah ( baraka) –
    • berkat ( baraka) –
  • baras ( baraṣ) – lepra
  • bardi ( bardī) – papirus
  • Bari ( bāri' ) – Sang Pencipta
  • barzakh ( barzakh) – intervensi
  • Basir ( baṣīr) – Sang Penglihat
  • basit (1) ( bāsiṭ) – banyak
  • basit (2) ( basīṭ) – sederhana
  • basmalah ( basmala) – pengucapan
  • basyar ( bashar) – manusia
  • basyir ( bashīr) – duta
  • batal ( bāṭil) – tidak jadi
    • batil
  • batin ( bāṭin) – dalam
  • batrik ( batrak) – Patriark
  • bawab ( bawwāb) – penjaga pintu
  • bawasir ( bawāsīr) – ambeien
  • bayan ( bayān) – terbuka
  • bayat ( bai`a) – penghormatan
  • bayat ridwan ( bai`atu'rriḍwān) – pernyataan yang menyenangkan
  • berguk ( burqu' ) – tutup badan
  • betik ( biṭṭīkh) – pepaya
  • biah ( bī`a) – sinagoga
  • bidah ( bid`a) – heresi
    • bida'ah
  • bidak ( baidaq) – pion catur
  • bigair ( bi-ghair) – kecuali
  • bihi ( bi-hi) – dengan itu
  • bikir ( bikr) – perawan
  • bilal ( bilāl) – muedin
  • bilhak ( bi'l-ḥaqq) – benar-benar
  • billahi ( bi-llāhi) – Dengan Tuhan
  • bin ( ibn) – putra
  • bina ( binā' ) – gedung
  • binti ( bint) – putri
  • bismillah ( bi-'smi'llāh) – Atas Nama Tuhan
  • bissawab ( bi'ṣṣawāb) – Kebenaran itu
  • Buraq ( burāq) – semacam kuda semberani
  • buldan ( buldān) – kota-kota
  • bulug ( bulūgh) – dewasa
  • bun ( bunn) – kacang kopi
  • bunduk ( bundūq) – anak haram
  • burdah (1) ( burda) –jubah
  • burdah (2) ( burda) – himne pujaan
  • burhan ( burhān) – bukti
  • burj ( burj) – benteng
  • burjusyamsi ( burju'shshams) – orbit matahari
  • burka' ( burqu' ) – kerudung
  • burnus ( burnus) – jubah
  • buruj ( burūj) –
  • burus ( baraṣ) – lepra

[sunting]D

  • da'ayah ( di`āya) –
  • dabaran ( al dabarān) –
  • dabat ( dābba) –
  • dabus ( dabbūs) –
  • daerah ( dā'ira) –
  • dahiat ( dāhiya) –
  • dahri ( dahrī) –
    • dahriah ( dahrīya) –
  • dahsyat ( dahsha) –
  • daif ( ḍa`īf) –
  • daim ( dā'im) –
  • dain ( dain) –
  • Dajal (دجال dajjāl) – anti-Christ
  • dakah ( dakka) –
  • dakhil ( dākhil) –
  • dakik ( daqīq) –
  • dakwa ( da`wā) –
  • dakwah ( da`wa) –
  • dal ( dāl) –
  • dalal ( dallāl) –
  • dalalah (1) ( dallāla) –
  • dalalah (2) ( dalāla) –
  • dalalat ( ḍalāla) –
  • dalfin (دلفن dulfin) – lumba-lumba
  • dalil ( dalīl) – bukti, butir tesis, argumen
  • dam ( dam) –
  • damawi ( damawī) –
  • damiah ( dāmiya) –
  • damir ( ḍamīr) –
  • dammah ( ḍamma) –
  • Damsyik (دمشق Dimashq) – Damaskus
  • danaah ( danā'a) –
  • dap ( daff) –
  • dar ( dār) –
  • darab ( ḍarb) –
  • daraj ( darj) –
  • daras ( dars) –
  • dardar ( dardār) –
  • darih ( ḍarīḥ) –
  • darul akhirat ( dāru'l ākhira) –
  • darulbaka ( dāru'l baqā' ) –
  • darulfana ( dāru'l fanā' ) –
  • darulharab ( dāru'l ḥarb) –
  • darulislam ( dāru'l islam) –
  • daruljalal ( dāru'l jalāl) –
  • darurat ( ḍarūra) –
  • darussalam ( dāru'ssalām) –
  • daryah ( dirāya) –
  • dat ( dhāt) –
  • dauk ( dhauq) –
  • daulat ( daula) –
  • daur ( daur) –
  • dawam ( dawām) –
  • dayus ( dayyūth) –
  • debah ( dhabḥ) –
  • Delu ( dalw) –
  • derajat ( daraja) –
  • dianat ( diyāna) –
  • diat ( diya) –
  • dik ( dīk) –
  • dikir ( dhikr) –
  • dimnan ( ḍimnan) –
  • din ( dīn) – agama
  • dinar (دينار dīnār) – mata uang
  • dirayat ( dirāya) –
  • dirham ( dirham) –
  • doa ( du`ā' ) – sembahyang
    • do'a
  • doba ( dubbā' ) –
  • dorak ( dauraq) –
  • dubur ( dubur) – anus
  • dukan ( dukkān) – toko
  • dukhun ( dukhn) –
  • Duldul ( Duldul) –
  • dunia ( dunyā) – jagat
    • duniawi
    • duniawiah
  • dur ( durr) –
  • dustur ( dustūr) – konstitusi

[sunting]E

  • effendi (افندي afandī) – semacam gelar
  • eja (هجأ hijā' ) – cara penulisan, pasang aksara, spelling
  • ente (انت anta) – engkau

[sunting]F

  • fa ( ...) –
  • faal ( ...) –
  • faal ( ...) –
  • faal ilat ( ...) –
  • fadihat ( ...) –
  • fadil ( ...) –
  • fadilat ( ...) –
  • fadul ( ...) –
  • faedah ( ...) –
  • faham ( ...) –
  • faidah khabar ( ...) –
  • fajar ( ...) –
  • fakhar ( ...) –
  • fakih ( ...) –
  • fakir ( ...) –
  • falak ( ...) –
  • falakiah ( ...) –
  • Famal-hut ( ...) –
  • fana ( ...) –
  • fani ( ...) –
  • faraid ( ...) –
  • farak ( ...) –
  • faras al-bahar ( ...) –
  • fardu ( ...) –
  • fardul-ain ( ...) –
  • fardul-kifayah ( ...) –
  • farik ( ...) –
  • farsakh ( ...) –
  • fasahah ( ...) –
  • fasal ( ...) –
  • fasid ( ...) –
  • fasih ( ...) –
  • fasik ( ...) –
  • fasilah ( ...) –
  • fatah (1) ( ...) –
  • fatah (2) ( ...) –
  • fatan ( ...) –
  • fatihah ( ...) –
  • fatir ( ...) –
  • fatur ( ...) –
  • fatwa ( ...) –
  • fawr ( ...) –
  • fellah ( ...) –
  • fi ( ...) –
  • fidah ( ...) –
  • fiil (1) ( ...) –
  • fiil (2) ( ...) –
  • fiil mudarik ( ...) –
  • fikih ( ...) –
  • fikrah ( ...) –
  • filsafat ( ...) –
  • filsafi ( ...) –
  • filsuf ( ...) –
  • firajullah ( ...) –
  • firak ( ...) –
  • firasat ( ...) –
  • Firaun ( ...) –
  • firdaus ( ...) –
  • firdausi ( ...) –
  • firkah ( ...) –
  • fitnah ( ...) –
  • fitrah (1) ( ...) –
  • fitrah (2) ( ...) –
  • fitri ( ...) –
  • fuad ( ...) –
  • fukaha ( ...) –
  • fukara ( ...) –
  • fulan ( ...) –
  • fulus ( ...) –
  • furdah ( ...) –
  • furkan ( ...) –
  • furu' ( ...) –
  • furud ( ...) –
  • futuat ( ...) –

[sunting]G

  • al-Gafar ( ...) –
    • al-Gafir ( ...) –
    • al-Gafur ( ...) –
  • gaib ( ghaib) – hilang; tak nampak
  • Gailan ( Ghaylān) –
  • gairah ( ghaira) – hasrat
  • galabah ( ghalaba) –
  • galib ( ghālib) –
  • gamal ( jamal) –
  • gamis ( qamīṣ) –
  • gana ( ghanā' ) –
  • gani ( ghanīy) –
  • garba ( gharb) –
  • garib ( gharīb) –
  • garisah ( gharīza) –
  • Gassaniah ( Ghassāniyya) –
  • gayat ( ghāya) –
  • gaza ( ghazā) –
  • gazal ( ghazal) –
  • gazi ( ghāzī) –
  • gengsi ( jinsī) –
  • geramsut ( qaramsut) –
  • gereba ( qirba) –
  • ghain ( ...) –
  • gilat ( ...) –
  • gina ( ...) –
  • gizi ( ...) – bernutrisi
  • gobar ( ...) –
  • gulam ( ...) –
  • gurab ( ...) –
    • Gurabiah ( ...) –
  • gurur ( ...) –
  • gusul ( ...) –
  • guyub ( ...) –

[sunting]H

  • habib – teman
    • habibi – yang tercinta
  • hadiah – kado

[sunting]I

  • Ibrani – bahasa bangsa Yahudi
  • Idul Adha
  • Idul Fitri
  • isytihar – proklamasi, permakluman secara resmi dan umum

[sunting]J

  • jahil – iseng, tidak tahu, bodoh
  • Jumat – hari kelima dalam pekan, hari Sukra
  • jenazah – mayat
  • jasad

[sunting]K

  • Ka'bah – bangunan suci di Makkah
  • Kutubusitah

[sunting]L

  • lazim – umum, biasa, lumrah
  • logat – aksen, dialek

[sunting]M

  • mu'allaf – orang yang baru saja masuk agama Islam
Maja

[sunting]N

  • nabi – duta Tuhan kepada umat manusia
  • Nasrani – pengikut agama Kristen

[sunting]O

oknum – seseorang

[sunting]P

  • perlu

[sunting]Q

  • al-Qur'an – kitab suci umat Muslim

[sunting]R

  • rakyat – warga
  • rasul
  • rejeki

[sunting]S

  • Sabtu – hari ketujuh dalam satu pekan, hari Saniscara
  • salat
  • salib
  • Selasa – hari ketiga dalam satu pekan, hari
  • setan
  • sabun (dari sobuun)

[sunting]T

  • Ta'jil - hidangan untuk berbuka puasa terutama makanan manis-manis seperti kolakkurma, dsb.
  • Tasawuf – ilmu sufisme

[sunting]U

  • ubuwah ( ubūwa) – paternitas
  • udu ( `adūw) – musuh
  • ufuk ( ufuq) – cakrawala, horison
  • ujmah ( `ujma) – barbarisme
  • ujrat ( ujra) – gaji
  • ujub ( `ujb) – kebanggaan
  • ukab ( `uqāb) – bendera sang Nabi
  • ukhdud ( ukhdūd) – pakaian jaket
  • ukhuwah ( ukhūwa) – persaudaraan
  • uktab ( `uqāb) – elang
  • ulama (علماء ulamā' ) – guru agama
  • ulwi ( `ulwī) – tinggi, megah
  • um ( umm) – ibu
  • umat (أمة umma) – komunitas agama
  • umiah ( ummīya) – buta huruf, kebodohan
  • ummi ( ummī) – ibu saya
  • Ummul Kitab ( ummu'l-kitāb) –al-Fatihah (Ibu segala Kitab)
  • ummul walad ( ummu'l-walad) – ibu
  • umrah (عمرة `umra) – perjalanan religius ke Makkah
  • umum ( `umūm) – general
  • umumah (1) ( umūma) – keibuan
  • umumah (2) ( `umūma) – kepamanan
  • umur ( `umr) – usia
  • unjul ( `unjal) – sejenis musang
  • unsur (عنصر `unṣur) – elemen
  • unsuri ( `unṣurī) – elementer
  • upafirkah ( firqa) – sub-aliran
  • urfani ( `irfāni) – spiritual
  • urian ( `uryān) – telanjang
    • uriani ( `uryān) – telanjang
  • uruf ( `urf) – budaya setempat
  • usali ( uṣallī) –
  • uskup ( usquf) – pemimpin gereja
  • uslub ( uslūb) – gaya sastra
  • ustad ( ustādh) – guru besar
  • usul (أصول uṣūl) – asal
  • usur ( `ushr) –
  • Utarid (عطارد `uṭārid) – planet Merkurius
  • uzlat ( `uzla) –
  • uzur (1) ( `udhr) –
  • uzur (2) ( `udhr) – sakit-sakitan

[sunting]W

  • wa ( wa) – dan
  • wa'ad ( wa`d) –
  • wa'adah ( wa`da) –
  • wa ba'dahu ( wa-ba`dahu) –
  • wabah ( wabā' ) –
  • wabillahi ( wa-bi'llāhi) –
  • wadat ( waḥda) –
  • wadi (1) ( wādī) – lembah
  • wadi (2) ( wadī) – sperma atau urin
  • wadiah ( waḍī'a) – simpanan
  • Wadud, al-Wadud ( al-wadūd) –
  • wafak ( wafq) –
  • wafat ( wafāh) – meninggal
  • Wahab, al-Wahab ( al-wahhāb) –
  • wahadaniah ( waḥdānīya) –
  • wahadat ( waḥda) –
  • wahah ( wāḥa) – oase, oasis
  • waham ( wahm) –
  • wahib ( wāhib) –
  • wahid ( wāḥid) – satu
  • wahidiat ( wāḥidīya) –
  • wahyu ( waḥy) –
  • wajad ( wajd) –
  • wajah ( wajh) – muka
  • wajah sabah ( wajh al-shibh) –
  • wajib ( wājib) –
  • wajur ( wajūr) –
  • wakaf ( waqf) –
  • wakas ( waqṣ) –
  • wakif ( wāqif) –
  • wakil ( wakīl) –
  • waktu ( waqt) – masa
  • walad ( walad) –
  • walak ( walā' ) –
  • walakin ( wa-lākin) –
  • walau ( wa-lau) – meski
  • walhal ( wa'l-ḥāl) –
  • walhasil ( wa'l-ḥāṣil) –
  • wali ( walīy) –
  • walimah ( walīma) –
  • waliullah ( walīyu'llāh) –
  • wa'llahi ( wa-'llāhi) –
  • wallahu a'lam ( wa'llāhu `alam) –
  • warak ( wara' ) –
  • warasa ( waratha) –
  • wari' ( wari`) –
  • warid (1) ( wārid) –
  • warid (2) ( warīd) –
  • waris ( warith) – sesuatu yang diberikan kepada keturunan
    • warisan
  • warkat ( waraqa) – resi, surat
  • warkatu'l ikhlas ( waraqatu'l-ikhlas) –
  • wartah ( warṭa) –
  • wasak ( wasq) –
  • wasfah ( waṣfa) –
  • Wasi, al-Wasi ( wāṣi' ) –
  • wasi ( waṣīy) –
  • wasiat ( waṣīya) –
  • wasikah ( wathīqa) –
  • wasil ( wāṣil) –
  • wasilah ( wāṣila) –
  • wasiliah ( wāṣilīya) –
  • wasir ( ...) –
  • wasit ( wāsiṭ) –
  • wasitah ( wāsiṭa) –
  • waslah ( waṣla) –
  • wassalam ( wa'ssalām) – dan damai
  • waswas ( waswās) – curiga
  • watad ( watad) –
  • watan ( waṭan) –
  • wathik ( wāthiq) –
  • watik ( waṭ' ) –
  • wazan ( wazn) –
  • wazeh ( wāḍiḥ) –
  • widak ( widā' ) –
  • wijahah ( wajāha) –
  • wikalat ( wikāla) –
  • wiladah ( wilāda) –
  • wilayah (ولاي wilāya) – regio
  • wirid ( wird) –
  • witir ( witr) –
  • wudhu ( wuḍū) – mensucikan diri
  • wujud ( wujūd) – rupa
  • wukuf ( wuqūf) –

[sunting]Y

  • ya (يا yā' ) – huruf dari abjad Arab
  • yad (يد yad) – tangan
  • Yafit (يافث Yāfit) – salah seorang putra nabi Nuh
  • Yahudi (يهودي Yahūdī) – sebuah bangsa di Timur Tengah
    • Yahudiah ( Yahūdīya) – berhubungan dengan Yahudi
  • Yahya (يحيا Yaḥyā) – Yohanes
  • yais ( ya's) – perubahan hidup
  • Yajuj dan Majuj (يأجوج و مأجوج Ya'jūj wa Ma'jūj) – Gog dan Magog
  • yakin (ياقين yaqīn) – percaya
  • yakni (يعني ya`nī) – yaitu
  • yakun (يكن yakun) – yaitu
  • yakut (ناقوت yāqūt) –
  • Yaman (اليَمَنيّة al-Yaman) – sebuah negara di Timur Tengah
  • yarkan (يرقان yarqān) – sakit kuning
  • Yasin (ياسين Yā Sīn) – sebuah nama
  • yasyib (يشب yashb) – yasper (sebuah batu mineral)
  • yatim (يتيم yatīm) – yang tak memiliki bapak
  • yaum ( yaum) – hari
  • yaumiah ( yaumīya) – buku harian
  • Yunani (يوناني Yūnānī) – negara di Eropa Tenggara
  • Yunusiah ( Yūnusīya) – sebuah aliran

[sunting]Z

[sunting]Sumber

Kata-kata pada daftar ini terutama diambil dari sumber-sumber berikut:
  • (Indonesia) Kamus Besar Bahasa Indonesia
  • (Perancis) (Indonesia) Pierre Labrouse, 1985, Kamus Umum Indonesia-Prancis, Paris: Association Archipel dan Jakarta: Gramedia
  • (Inggris) Russell Jones, 1978, Arabic Loan-Words in Indonesian. A check-list of words of Arabic and Persian origin in Bahasa Indonesia and Traditional Malay, in the Reformed Spelling. London: School of Oriental and African Studies